Artikel Terkini

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub
Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub 1
Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub
Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub
Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub 2

BincangSyariah.com– Berikut hukum mengganti kurban dengan uang dalam pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub. Pasalnya, banyak sekali pertanyaan hukum mengganti kurban dengan uang. 

Menjelang perayaan Idul Adha ini, umat Islam bersiap-siap menyediakan hewan kurban yang disembelih saat hari raya idul adha dan hari tasyrik untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Hukum berkurban adalah sunnah muakkad kifayah, dan menjadi wajib apabila dinazarkan. Beberapa hadits menjadi dalil disyariatkannya berkurban, salah satunya adalah:

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub 3

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: “ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا”

Qutaibah menceritakan bahwa Abu Awanah menceritakan dari Qatadah dari Anas bin Malik ra, ia berkata “Nabi SAW. berkurban dengan domba jantan putih kehitaman yang bertanduk.

 Nabi sendiri yang melakukan penyembelihan dengan kedua tangannya. Beliau mengucapkan basmalah dan bertakbir. Ia juga meletakkan kakinya di antara leher dan badan kedua hewan tersebut.” (HR. Bukhari no.5565 dan Muslim no. 1966)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Aisyah, Nabi saw. bersabda:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ، وَإِنَّهُ لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ، قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا”

Tidak ada amal yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah  (berkurban). Sungguh, pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya.

Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya” (HR. Ibnu Majah no. 3126)

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang

Ali Mustafa Yaqub dalam kitabnya “at-Thuruq as-Shahihah fi Fahm as-Sunnah an-Nabawiyyah” menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai kesunnahan berkurban, sehingga orang yang memiliki kemampuan secara finansial dianjurkan untuk tidak meninggalkannya.

Namun, lanjut beliau, realitanya sekarang daging kurban yang telah didistribusikan tak jarang malah dijual kembali oleh pihak penerimanya. Alasannya, pihak penerima yang mayoritas fakir-miskin ini lebih membutuhkan uang ketimbang daging itu sendiri.

Sehingga muncul persoalan sekarang, mana yang lebih baik antara menyembelih hewan kurban atau bersedekah dengan uang sesuai harga hewan tersebut? (Baca juga: Hukum Qurban Patungan Kambing, Bolehkah?).

Ali Mustafa Yaqub menyebut ada dua pendapat berbeda dari kalangan ulama mengenai hukum mengganti kurban dengan uang. Pendapat pertama menegaskan bahwa menyembelih kurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang.

Pendapat ini dimotori oleh Abdullah bin Umar ra, salah satu sahabat  yang terkenal memegang teguh dalam mengikuti Nabi SAW. pendapat beliau ini kemudian diikuti ulama yang cenderung memahami hadits nabi secara tekstual, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Zinaad.

Ulama  yang mengikuti pendapat pertama ini memaparkan fakta historis bahwa Nabi serta para khulafaur rasyidin melakukan penyembelihan kurban. Seandainya mereka tahu bahwa mengganti kurban dengan uang lebih utama, tentu mereka tidak akan memilih untuk menyembelih kurban.

Sehingga pergantian kurban dengan uang berarti menyalahi sunnah yang telah dijalani oleh Rasululllah saw. (Baca juga: Baru Punya Niat Berkurban, Bagaimana Hukum Memotong Kuku dan Rambut?)

Sedangkan pendapat kedua memperbolehkan pergantian hewan kurban dengan uang senilai harga hewan tersebut. Di antara yang mengusung pendapat ini adalah Aisyah ra. dan Bilal bin Rabah, Aisyah menegaskan:

لَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِخَاتَمِي هَذَا أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ أُهْدِيَ إلَى الْبَيْتِ أَلْفًا

Bersedekah dengan cincinku ini lebih aku sukai daripada menyembeli seribu hewan untuk baitullah

Di antara ulama yang mengikuti pendapat kedua ini adalah Imam asy-Sya’bi dan Imam Abu Tsur. Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub, munculnya perbedaan pendapat ulama tentang mengganti kurban dengan uang ini didorong oleh pandangan sebagian ulama.

Terutama yang mengikuti pendapat kedua, bahwa terdapat ‘illat (penyebab) disyariatkannya penyembelihan kurban, yaitu memberikan makanan untuk kaum fakir-miskin serta membantu mereka secara finansial. 

Sebab, penyembelihan kurban merupakan ibadah muta’addiyah  atau ibadah sosial yang manfaatnya dirasakan oleh pelakunya dan orang lain, sehingga lebih luwes hukumnya daripada menjadi ibadah qashirah, yaitu ibadah individual yang manfaatnya hanya dirasakan oleh pelakunya.

Namun, ‘illat dalam hadits kurban ini merupakan ‘illat mustanbathah, yaitu illat yang dihasilkan oleh para mujtahid melalui proses ijtihad. Hal ini karena penyebab hukum disyariatkannya kurban tidak disebutkan secara gamblang dalam teks hadits.

Oleh karena itu, perbedaan pendapat di antara ulama muncul seiring dengan ketidakseragaman mereka dalam memahami ada tidaknya suatu ‘illat dalam suatu hadits.

Hal ini berbeda apabila ‘illat haditsnya bersifat manshushah, yaitu ‘illat yang disebut secara gamblang sehingga secara umum tidak akan menimbulkan perbedaan ulama. (Baca juga: Hukum Arisan Qurban Menurut Fiqih Madzhab Syafii).

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub. Wallahu a’lam. (Baca juga: Hukum Hewan Qurban Terinfeksi PMK, Bolehkah?).

Hukum Mengganti Kurban dengan Uang dalam Pandangan KH. Ali Mustafa Yaqub 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list