Artikel Terkini

Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan

Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan
Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan 1
Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan
Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan
Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan 2

BincangSyariah.Com– Dalam rangka untuk memeriahkan acara resepsi pernikahan membuat sebagian orang mengadakan pertunjukan musik. Lantas, bagaimanakah hukum musik saat resepsi pernikahan? Atau bagaimana hukum mengadakan pertunjukan musik saat resepsi pernikahan?

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa pesta pernikahan merupakan sarana untuk mempublikasikan adanya pernikahan, agar nantinya tidak terjadi kecurigaan dan fitnah, sebab dengan adanya walimah orang akan tahu bahwa kedua mempelai sudah resmi menjadi pasangan suami istri.

Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan 3

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW berikut :

أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِى الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Artinya : “Umumkanlah pernikahan ini dan laksanakanlah pernikahan itu di masjid, serta tabuhlah rebana untuk itu”  (HR. Imam Turmudzi)

Ada satu makna mendasar yang ditunjukkan oleh hadits ini yakni dalam melangsungkan akad pernikahan hendaknya mengadakan publikasi kepada halayak ramai. Maka tidak heran ketika nabi menganjurkan agar pelaksanaan akad nikah dilaksanakan di Masjid.

Masjid menjadi pilihan nabi karena masjid merupakan tempat yang efektif untuk mengumumkan pernikahan. Sebab masjid adalah tempat berkumpulnya manusia. Terlebih di masa Nabi, dimana Masjid merupakan pusat kegiatan umat muslim .

Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan

Selanjutnya, nabi juga pernah memerintahkan untuk bermain rebana. Dalam memandang hadits ini, Imam Turmudzi berkomentar bahwa memainkan alat musik untuk tujuan publikasi pernikahan boleh-boleh saja.

Mengingat bahwa memainkan alat musik dianggap langkah yang cukup efektif untuk publikasi pernikahan, karena secara naluriah, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menikmati lantunan alat musik, sehingga musik merupakan sesuatu yang efisien untuk mengumpulkan orang ketika pesta pernikahan. Tentunya selama tidak ada faktor eksternal yang menjadikannya haram.

Dalam sebuah riwayat lain diceritakan bahwa pada suatu ketika Sayyidah ’Aisyah mengantar seorang pengantin perempuan bernama Fari’ah binti As’ad ke rumah laki-laki yakni Nubait bin Jabir dari golongan Ansor. Nabi berkata,” wahai  ’Aisyah tidakkah kalian membawa alat musik? Bukankah orang-orang Ansor senang bermain musik ”

Imam turmuzi juga meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa suatu ketika Yahya bin Sulaiman mengabarkan kepada Muhammad bin Hatib bahwa dirinya telah menikahi dua orang perempuan yang salah satunya dimeriahkan oleh rebana, Muhammad bin Hatib berkata, Rasulullah SAW bersabda  :

فَصْلُ مَا بَيْنَ الحَلاَلِ وَ الحَرَامِ الدَفُّ وَالصَّوْتُ فِى النِّكَاحِ

Artinya : ”Yang memisahkan sesuatu antara barang haram dan halal adalah rebana dan lagu pada saat pernikahan” (HR. Imam Turmudzi)

Hukum Musik dalam Islam

Dalam menjawab masalah musik, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan haram karena yang tercantum pada hadits itu hanyalah rebana. Sementara ulama yang lain mengatakan boleh, karena ulama ini memahami hadits tersebut secara kontekstual, tidak tekstual.

Oleh karena itu penyebutan nabi pada rebana bukan lantas hanya memperbolehkan bermain musik dengan menggunakan rebana. Karena penyebutan rebana dalam hadits itu hanya karena memang rebana lah yang populer ketika itu.

Alat-alat musik yang lain walaupun toh mungkin ada, tetapi tidak terlalu populer di kalangan masyarakat arab ketika itu. Terlebih pada masa nabi belum begitu banyak perkembangan, konstruksi, dan modifikasi instrumen musik sebagaimana yang kita jumpai di abad modern ini.

Kalau mengikuti alur pendapat ulama ini maka semua alat musik adalah halal. Sedangkan terkait keharaman alat musik yang secara khusus disebutkan, lebih disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu sering kali dijadikan sarana kemaksiatan.

Seperti, bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan, melalaikan kewajiban sebagai muslim, membuka aurat, mabuk-mabukan, dan ajang untuk mempertontonkan biduan dengan goyangan sensual nan erotis maka dalam kasus ini musik jelas haram .

Faktor-faktor inilah yang menyebabkan musik itu haram, namun apabila faktor-faktor ini hilang, maka musik dihukumi halal.

Intinya, boleh-boleh saja kita memeriahkan pesta pernikahan dengan menggelar konser musik atau dengan memainkan alat-alat musik tradisional agar semua orang dapat menyaksikan juga bahwa kedua mempelai benar-benar telah melangsungkan akad nikah.

Tetapi kebolehan ini dengan catatan, jangan sampai pertunjukkan musik yang dilakukan sebagai wahana untuk mendatangkan kemaksiatan.

Demikian penjelasan mengenai hukum mengadakan pertunjukan musik saat resepsi pernikahan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. (Baca juga: Hukum Mendengarkan Musik dalam Islam).

 

Hukum Musik Saat Resepsi Pernikahan 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list