Artikel Terkini

Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme

Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme
Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme 1
Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme
Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme
Tafsir Surah an-Nisa Ayat 36 : Perintah Berbuat Baik Kepada Tetangga Non Muslim

BincangSyariah.Com– Kontra narasi online merupakan upaya untuk melawan propaganda radikalisme. Pasalnya, era saat ini, media digital dan sosial sering digunakan teroris untuk melakukan propaganda kekerasan.  Kontra narasi online, langkah yang tepat dalam kondisi ini.

Barat Perang Melawan Teror 

Tragedi 11 September menyisakan luka yang mendalam bagi Amerika dan Barat. Aksi teror 9/11 itu menewaskan hampir 3.000 orang. Pasalnya, empat pesawat menyerang AS dan menabrak sejumlah target.

Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme 3

Korban terbanyak aksi teror ini di menara kembar World Trade Center, New York City, yaitu 2.753 orang. Di Pentagon yang tewas 184 orang, dan di lapangan Pennsylvania 40 orang tewas.

Aksi terorisme ini didalangi Al-Qaeda di bawah komando Usamah bin Ladin. Bernard Lewis, dalam Holy War and Unholy Terror, menyatakan ada beberapa bentuk aliran ekstrimisme Islam yang eksis saat itu.

Al-Qaeda dan beberapa kelompok Islam lainnya, yang seperti itu di seluruh negara muslim, semuanya berasal dari agama Islam, yang nilai ajarannya menyimpang jauh dengan Islam.

Semua kelompok ekstrimis ini membenarkan perbuatan biadab itu. Yang merujuk pada teks-teks Islam, terutama Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang tak kalah penting, kelompok ini mengaku mewakili agama Islam yang murni, lebih otentik, dan abash dibanding kelompok Islam lain, yang dijalankan oleh sebagian umat Islam di negara mayoritas negara muslim.

Sejarah Panjang Aksi Terorisme

Dalam tradisi Timur ada istilah  thug—yang dalam Bahasa Inggris—, dan assassin—yang dalam India—, menurut Bernard Lewis, keduanya merujuk pada sekte agama yang fanatik, yang bentuk ibadahnya adalah membunuh orang-orang yang mereka pandang sebagai musuh negara.

Praktik pembunuhan dalam Islam, memang bukan hal baru. Sudah sejak awal, terlebih jika dikaitkan dengan politik. Faraq Fouda dalam  kitab Al-Haqiqah Al-Ghaibah, menunjukkan pandangan kritis terhadap kelompok ekstrimis, terlebih fundamentalis yang seolah-olah merindukan dan memimpikan khilafah Islamiyah.

Padahal fakta dilapangan menunjukkan sebaliknya, kebenaran yang sengaja dihilangkan dari sisi kelam khilafah Islam. Praktik pembunuhan sudah ada sejak awal Islam berdiri. Jejak  kelam memalukan, tiga dari empat Khulafa’ ar-Rasyidin, (Umar, Usman, dan Ali) justru wafat disebabkan pembunuhan politik. Yang terjadi akibat polarisasi akut di tengah umat, yang sama-sama pengikut Nabi.

Pada abad ke 11-19, kelompok sekte muslim yang dikenal dengan Assassins– pembunuh (Hashishiyya) yang aktif di Suriah dan Iran, merupakan sekte pertama yang bertransformasi perbuatan yang dinamakan seperti nama mereka menjadi system dan ideologi.

Para Hashishiyya, inilah yang dalam era kontemporer ini, dikenal kelompok teroris Islam. Kelompok ini, yang bersiap untuk mengorbankan hidup untuk tujuan tersebut. Misalnya, meledakkan diri dengan bom bunuh diri.

Belakangan, dengan berkembangnya zaman, dan kemunculan internet, para kaum ekstrimis melancarkan agenda aksi terorisme dengan memanfaatkan teknologi.  Menurut peneliti terorisme, Unaesah Rahma, pelaku terorisme memanfaatkan media sosial sebagai ajang menyebarkan propaganda aksinya.

Teroris ini memakai narasi ekstremis untuk meyakinkan targetnya di media sosial. Pun dengan propaganda mereka meraih simpati publik yang luas.  Pasalnya, mendulang opini publik merupakan strategi jitu untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat luas.

Facebook dan Telegram, adalah dua media sosial yang jamak dipakai para teroris untuk melangsungkan aksinya. Propaganda, perekrutan, dan meraih opini publik, semuanya dilakukan dari media sosial. Lebih dari itu, media sosial tersebut digunakan para teroris untuk melakukan komunikasi antar jaringan.

 Achmad Zainal Huda dalam  Journal Of Terrorism Studies, dalam judul Melawan Radikalisme Melalui Kontra Narasi Online, menulis bahwa kehadiran “media baru”, yang merujuk pada media sosial, merupakan angin segar dan keuntungan bagi jaringan tersendiri. Ia berkata ;

 “Kekuatan teroris tidak lagi dari jaringan perseorang tetapi melalui jejaring media yang terhubung secara global. Melalui media baru ini mereka tidak hanya mengirimkan pesan secara lokal, nasional, regional tetapi berskala global yang menjangkau seluruh audiens,”.

Kontra Narasi  Online Melawan Gerakan Propaganda Teroris

Yang tak kalah penting, di era kontemporer, propaganda kaum teroris tak bisa dilepaskan dari sosok jihadis awal.  Sosok ini adalah Abu al-A’la al-Maududi dan Sayyid Qutb. Kedua sosok ini adalah yang mulai mengkafitalisasi konsep jihad.  

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH. Mukti Ali menjelaskan bahwa Maududi dan Sayyid Qutb menyebut  dengan menggunakan istilah ‘sistem jahiliyah modern’ bagi negara yang tidak menerapkan syariat Islam.

Ada satu sosok lagi yang tak bisa dilepaskan, yakni Abdullah Azam. Yang terakhir ini, kata KH Mukti Ali menyematkan dengan istilah thaghut. Ia adalah konseptor dan komando jihad di Afghanistan. Yang pada akhirnya, konsep  ini diadopsi oleh simpatisan, pengikut, dan murid-muridnya yang ada di Indonesia.

Sematan atau doktrin thaghut  yang dilontarkan oleh para teroris dan jihadis, mengandung konsekuensi yang besar. Dalam beberapa aksi teror yang terjadi di tanah air, para tersangka dan pelaku menggunakan doktrin thaghut. Pendek kata, bom bunuh diri dan kekerasan atas nama jihad, merupakan akibat dari doktrin tersebut.

Ahmad Zainul Huda menjelaskan, media internet telah dimanfaatkan secara efektif oleh kelompok radikal terorisme sebagai media dalam mempromosikan dan mempublikasikan narasi mereka, serta memfasilitasi proses radikalisasi dan rekrutmen.

Untuk itu, dalam menanggulangi propaganda terorisme itu, langkah kontra narasi online seyogyanya dilakukan. Pasalnya, kontra narasi merupakan cara jitu dan efektif dalam melawan narasi propaganda teroris.

Ada tiga pilar sasaran kebijakan kontra narasi di dunia maya, kata Ahmad Zainul Huda. Pertama, ditujukan kepada situs, blog, media sosial, dan platform media online untuk kepentingan monitoring, pemetaan, serta perlawanan narasi dan konten terorisme.

Kedua, sasaran pembaca (audience/reader) yakni kelompok masyarakat yang rentan terjangkit paham terorisme. Dalam hal ini penting dilakukan yakni program media literasi, secara online dan offline.

Terakhir, penggunaan media (channel). Zainul Huda menyebut strategi ini dipakai sebagai instrumen desiminasi kontra narasi. Dalam hal ini dibutuhkan suatu media khusus yang ditujukan untuk melawan kontra-propaganda yang disebarkan oleh kelompok teror.

(Baca juga: Cara Jitu Menangkal Narasi Radikal yang Beredar di Media Sosial)

Kontra Narasi Online; Upaya Melawan Propaganda Radikalisme 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list