Artikel Terkini

Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21

Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21
Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21 1
Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21
Arrum ayat 21
Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21 2

BincangSyariah.Com – Membangun sorga lewat pernikahan adalah dambaan hampir setiap orang, maka tak heran apabila sejak manusia mengenal hukum hingga era kekinian, menikah menjadi salah satu rencana besar dalam hidup seseorang. Cita-cita mulia tersebut mendapatkan legitimasi di berbagai Kitab Suci, tak terkecuali Alquran, dan ayat yang sering dikutip adalah Surat Arrum ayat 21 :

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa tenteram (sakinah) bersamanya, dan Ia memberikan rasa kasih (rahmah) dan sayang (mawaddah) di antara kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat beragam tanda bagi mereka yang berpikir (tafakkur)”.

Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21 3

Dalam kehidupan sehari-hari, Arrum ayat 21 ini secara berlebihan digunakan untuk mengglorifikasi pernikahan  dan di sisi lain untuk menista mereka yang masih melajang alias jomblo, yang dalam psikologi pernikahan secara berturut sering disebut matrimania dan singlisme. Matrimania adalah antusiasme/glorifikasi berlebihan terhadap pernikahan, sedangkan singlisme adalah memberikan stigma atau stereotip tertentu (yang berkonotasi buruk) terhadap lajang.

Glorifikasi pernikahan beroperasi pada pandangan bahwa menikah adalah solusi akurat supaya hidup tenteram tau sakinah. Bahkan, menikah juga menjadi solusi persoalan kenakalan remaja. Sempat muncul pula gerakan di media sosial yang mempromosikan pernikahan dini. Sementara itu, menista lajang mengarah pada pandangan bahwa jomblo pasti kesepian, tidak bahagia, dan hidupnya tak sakinah, apalagi penuh cinta. (Baca: Kritik Hadis Ancaman Neraka bagi Jomblo Seumur Hidup)

Akan tetapi, sekadar ingin mendapatkan sesuatu tanpa mengenal dan memahami situasinya sangat mungkin tersesat dan gagal di tengah jalan, tak terkecuali bagi mereka yang ingin menikah tapi tidak paham tentang pernikahan.

Sebagai langkah awal, kita perlu terlebih dulu mendefinisikan pernikahan secara sederhana, yaitu kontrak atau pernjanjian antara dua orang (dengan selain manusia tidak dapat bernama pernikahan dalam konteks ini) untuk hidup bersama sebagai suami-istri. Jika pernikahan ini menghasilkan anak, sistem akan berubah menjadi keluarga.

Dalam pernikahan, unsur utama bekerjanya fungsi-fungsi dalam sistem tersebut adalah hubungan antara suami dan istri. Apabila hubungan tersebut terjalin intim, yang tercirikan dengan kerjasama dan pembagian tugas secara adil, pernikahan akan fungsional. Sebaliknya, jika komponen utama tersebut hilang, sistem akan terganggu. Dalam sebuah sistem, bagian-bagian di dalamnya perlu bekerja saling terkait dan berhubungan secara interdependen.

Memaknai Surah Arrum Ayat 21

Kata “sakinah” dalam Arrum ayat 21 tersebut dalam terjemahan ayat tersebut terpilih makna ‘tenteram’. Pernikahan sakinah sendiri bukan sebuah konsep orisinal dari Islam. Konsep ini sudah populer di kalangan Yudeo-Kristiani dengan istilah “shekhinah” (bahasa Ibrani), yang berarti sama persis dengan kata Arab “sakinah” yang bermakna ‘tinggal’ atau ‘mendiami sesuatu dengan tenang’. Talmud menggunakan kata ini untuk mengidentifikasi kehadiran Tuhan atau tinggalnya Tuhan di dunia. Shekinah juga bermakna ‘pengantin Tuhan’.

Karena sakinah ini adalah tujuan, siapa pun yang menikah belum tentu akan mendapatkannya. Artinya, sakinah adalah kondisi yang tidak bisa serta-merta terjadi ketika seseorang mengucapkan akad. Hal ini sama seperti seseorang yang mengatakan sedang berkendara menuju Jakarta. Tidak ada yang menjamin dia akan sampai. Pun, sebaliknya, mereka yang tidak berkendara, bukan berarti tidak bakal sampai di Jakarta. Artinya, mereka yang lajang bukan berarti tidak mungkin mengalami kondisi sakinah.

Mempopulerkan pernikahan sebagai solusi kenakalan remaja adalah kegagalam menggunakan logika. Anak-anak yang secara sosial tervonis bermasalah tersebut adalah produk dari disfungsinya pernikahan.

Artinya, mereka adalah korban dari sistem pernikahan dan keluarga yang terbangun secara serampangan oleh orang tua mereka. Singkatnya, anak nakal adalah produk gagal dari parenting.

Jadi, yang harus kita lihat sebagai masalah adalah sistem pernikahan orang tuanya, bukan semata-mata kelakuan sang anak. Kegagalan melihat persoalan ini dengan saksama menyebabkan anak menjadi korban ganda: pertama, mereka terjebak dalam keluarga yang disfungsi; kedua, mereka dicap sebagai masalah yang harus diatasi. Menikahkan anak bermasalah berarti melempar dia menuju masalah yang lain. Celakanya, solusi yang membabi-buta seperti ini sering mengutip ayat di atas, yaitu supaya hidup mereka tenang.

Padahal, jika kita lanjutkan membaca, “Ia memberikan rasa kasih (rahmah) dan sayang (mawaddah) di antara kalian”, tentu ada pekerjaan yang hanya mungkin bisa dilakukan oleh orang yang dewasa (secara fisik, intelektual dan psikologis). Kata “rahmah” seakar dengan kata Ibrani “rachem” yang berarti ‘rahim perempuan/ibu’, yang kemudian baik di Yahudi maupun Islam menggunakannya untuk menyebut asma Allah Arrahim.

Jadi, rasa kasih tersebut adalah ‘cinta keibuan’. Cinta jenis ini adalah cinta yang bertujuan untuk merawat atau mengembangkan spiritualitas. Tentu saja ada banyak definisi tentang cinta, tetapi cinta jenis ini mesti terkait dengan kokohnya spiritualitas—menyentuh sesuatu yang transenden, bukan ekspresi cinta I love you dalam makna ‘I want to have sex with you’.

Anak remaja tidak mungkin mampu membina cinta jenis tersebut (rahmah) karena dia secara naluriah masih bergantung pada pemberian jenis cinta yang sama. Bagaimana mungkin seseorang bisa berbagi, sedangkan di saat yang sama dia membutuhkan. Sebuah teko kosong tak bisa mengisi cangkir. Cinta yang fungsional adalah memberi dan menerima secara seimbang. Menikah berarti berbagi cinta dengan pasangan.

Pernikahan Merupakan Pekerjaan Intelektual

Menurut penelitian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, tercatat 94,72 persen perempuan usia 20 tahun hingga 24 tahun berstatus pernah kawin. Sementara itu, hanya 4,38 persen dari mereka yang kawin di bawah usia 18 tahun yang masih melanjutkan sekolah. Pendidikan yang rendah, dan biasanya akan berdampak pada kondisi ekonomi, adalah masalah bagi setiap bangsa. Jadi, bagaimana pernikahan dini ada yang menganggapnya sebagai solusi? Pernikahan dini adalah plak yang mengganggu setiap bangsa.

Jadi, membaca secara saksama ayat di atas justru mengantar kita pada pemahaman bahwa pernikahan pada tahap lanjut adalah pekerjaan intelektual, terlebih jika kita mencermati penutup ayat di atas, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (ayat) bagi mereka yang berpikir (tafakkur). Tanda ‘ayat’ adalah sesuatu yang bermakna. Untuk memaknai sebuah tanda, kita membutuhkan pengetahuan. Tanda  yang dapat terlihat bagi mereka yang tidak punya latar pengetahuan sama sekali itu tidak akan berarti apa-apa.

Maka, wajar jika ayat tersebut mengatakan bahwa hanya mereka yang bekerja secara intelektual yang dapat memaknai tanda itu. Kata “tafakkur” identik dengan berpikir reflektif, yang berasosiasi dengan kebijaksanaan. Sejumlah riset mendukung ini dengan mengatakan bahwa pendidikan tinggi (sebagai pertanda level intelektual) sangat terkait dengan kebahagiaan pernikahan.

Dengan demikian, justru dari sini kita perlu berpikir bahwa syarat baligh dalam konteks pernikahan mestinya tak dibatasi pada baligh secara biologis (haid atau mimpi basah) semata tetapi baligh secara intelektual, spiritual, emosional, sekaligus finansial sebagai syarat mendukung tujuan pernikahan. Tanpa syarat itu semua, pernikahan sebaiknya ditunda dan calon dikondisikan untuk memenuhi syarat tersebut terlebih dulu. Sejumlah riset menunjukkan bahwa lajang malah lebih bahagia.

Dengan demikian cakupan pemahaman kita tentang pernikahan menjadi universal (bahkan umat agama lain bisa mengadopsinya), tidak mengulang-ulang tradisi bahwa menikahi anak perempuan 9 tahun itu bisa orang lakukan hanya gara-gara kita dengar cerita bahwa Nabi SAW menikahi Aisyah di usia tersebut. Atau, membebek para promotor nikah muda, yang sebagian berakhir cerai dan curhat di medsos tentang derita rumahtangganya. Dengan membaca Arrum ayat 21 seperti ini, pernikahan anak/remaja menjadi tidak masuk akal untuk mendukung konsep pernikahan sakinah.

Menista Jomblo Pakai Arrum ayat 21 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list