Artikel Terkini

Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian

Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian
Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian 1
Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian
Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian
Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian 2

BincangSyariah.Com- Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian tak usah diragukan. Selain sebagai presiden, dalam kancah nasional maupun dunia, Gus Dur memiliki banyak peran dan kedudukan. Sebagaimana yang tertulis pada nisan pusaranya, “Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan”.

Karena begitulah adanya, jerih payahnya memanusiakan manusia, mendamaikan konflik, rekonsiliasi dengan individu atau kelompok yang membuahkan hasil. Ia menyimpan wacana (mind of idea) dan melakukan aksi (mind of action).

Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian 3

Wacana dan gagasannya tertuang dalam berbagai karya tulis dan aksinya terwujud dalam berbagai bentuk, baik sebelum menjadi presiden, saat menjadi, dan setelahnya. Tentu, ia telah melalui proses panjang.

Perjalanan Biografi dan Intelektual Gus Dur

Proses intelektual dan pergerakan semasa mudanya lah yang melahirkan Gus Dur menjadi Gus Dur dalam tanda petik. Meskipun, ia masih memiliki trah kyai yaitu, Kyai Hasyim Asy’ari, ulama besar Indonesia, tapi usaha dan benturan-benturan dalam perjalanan hidupnya juga turut membentuknya.

Gus Dur lahir lima tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pada masa pertumbuhannya, Gus Dur banyak melihat dan mengalami polemik kebangsaan. Sejak belia bersama ayahnya, Wahid Hasyim, Gus Dur bertemu dengan beberapa tokoh penting.

Saat remaja, pergulatannya dengan buku-buku pemikiran kiri dari tokoh nasional maupun dunia, merupakan awal pergolakan intelektualnya. Ia juga membaca buku-buku sastra barat dan timur. Buku-buku yang barangkali baru mulai terdengar oleh kalangan mahasiswa.

Pengasahan intelektualnya berlanjut ke pesantren hingga perguruan tinggi Al-Azhar di Kairo, Mesir. Pada waktu yang sama, Indonesia yang dipimpin oleh Soeharto sedang banyak menghadapi kekacauan.

Saat Gus Dur menempuh pendidikan di Universitas al-Azhar, ia sempat bekerja pada Kedutaan Besar Indonesia di Kairo. Pekerjaannya di sana membawa dirinya menerima banyak informasi yang terjadi mengenai ketegangan situasi di Indonesia dalam kekuasaan pimpinan Orde Baru (Orba). Demikianlah keterangan Greg Barton dalam buku biografi “Gus Dur”.

Sepulang dari Mesir dan Baghdad, ia sempat pergi ke beberapa negara di Eropa termasuk Kanada guna mencari informasi kuliah magister. Sayangnya, ijazah sarjana dari Baghdad tidak diakui di Eropa. Gus Dur pun pulang ke Indonesia.

Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian

Sebelum akhirnya takdir membawanya pada jabatan presiden, Gus Dur sudah jauh lebih dulu berperan dalam isu-isu perdamaian melalui organisasi NU dan gerakan kebudayaan.

Misal, saat perencanaan proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai pemimpin NU menyuarakan penolakan. Proyek tersebut merugikan banyak pihak terutama pemilik lahan asli. Situasi saat itu benar-benar runyam. Beberapa pihak yang tidak setuju bahkan menuduhnya bagian dari Komunis.

Tidak hanya melalui suara sebagai pemimpin NU, Gus Dur juga mendukung para aktivis yang menyuarakan penolakan proyek tersebut dan mengorganisir mereka untuk menulis surat kepada Bank Dunia yang akan mendanai pembangunan proyek itu. Meskipun akhirnya proyek tetap berjalan, ketidakadilan itu setidaknya pernah terdengar suara kerasnya menentangnya.

Peran Gus Dur dan kaum Marjinal

Gus Dur juga kerap mengunjungi komunitas-komunitas yang mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah Orba. Juga komunitas yang bersitegang akibat perbedaan keyakinan.

Gus Dur melakukan dialog dengan mereka dan mengajarkan pada kita bahwa dialog menjadi salah satu kunci rekonsiliasi dua komunitas yang berseteru dan salah paham. Sikap-sikapnya menunjukkan nilai-nilai kerukunan yang  merupakan ajaran murni Islam sendiri.

Gus Dur menyerukan perdamaian melalui aksi-aksinya yang sebenarnya penerapan dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad. (Baca juga: Kisah Gus Dur Cuci Piring di Australia)

Saat menjadi presiden, tepatnya tahun 2000 di momen Millenium Summit PBB di New York, Gus Dur menyampaikan pidatonya mengenai pentingnya dialog.

Dalam buku “Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian”, sebuah catatan dialog antara Gus Dur dan Daisaku Ikeda, seorang tokoh perdamaian dari Jepang, termaktub bahwa saat menyampaikan pidato itu Gus Dur mengatakan mengenai pentingnya dialog yang menjadikan manusia saling memahami satu sama lain.

Menjadikan manusia memahami latar belakang sejarah serta membuka jalan untuk meningkatkan nilai-nilai universal dan kerukunan antar umat.

Aksi Gus Dur tidak terbatasi oleh jabatannya. Sebelum dan saat menjadi presiden, ia terus menyerukan keadilan dan perdamaian melalui gerakan nyata (mind of action) dan karya tulis (mind of idea).

Setelah turun (makzulkan) secara paksa dalam sidang istimewa MPR tahun 2001, Gus Dur tidak berubah. Ia tetap aktif dalam aktivitas perdamaian dan dialog antar komunitas. Seperti keterlibatannya dalam Konferensi Internasional Antar Agama yang terselenggara di Bali tahun 2007.

Dalam menyerukan perdamaian, selain menyerukan dialog sebagai jembatan untuk saling memahami, Gus Dur menolak aksi kekerasan atas nama agama. Apapun bentuk tindakan kekerasan dan terorisme tidaklah pasntas ada pembenaran.

Karya-Karya Gus Dur

Adapun karya-karyanya yang telah lahir dari buah pemikirannya telah banyak memberi pengaruh. Antara lain karyanya adalah “Tuhan Tidak Perlu Dibela” yang merupakan kumpulan esai mengenai isu kekerasan atas nama Islam dan konflik-konflik atas nama agama.

Karya lainnya juga ada “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, “Islam Nusantara”, “Menggerakkan Tradisi”, dan masih banyak lagi. (Baca juga: Alasan Gus Dur Mengakui Agama Konghucu di Indonesia).

Gus Dur merupakan sosok yang memenuhi banyak dimensi. 69 tahun usia merupakan anugerah yang  Tuhan berikan kepadanya tak membatasi pengaruh dan kebermanfaatannya yang terus terwariskan dan membekas. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita yang meneruskan!

Demikian penjelasan terkait wacana dan aksi Gus Dur dalam isu perdamaian. Semoga dapat menginpirasi kita semua. (Baca juga: Tugas Utama Agama Menurut Gus Dur).

Wacana dan Aksi Gus Dur dalam Isu Perdamaian 1
kontraktor rumah
bina rumah
pinjaman lppsa
pengeluaran kwsp
spesifikasi rumah
rumah ibs
pelan rumah
rekabentuk rumah
bina rumah atas tanah sendiri
kontraktor rumah selangor
rumah banglo syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Source


kontraktor rumah, bina rumah, pinjaman lppsa, pengeluaran kwsp, spesifikasi rumah, rumah ibs, pelan rumah, rekabentuk rumah, bina rumah atas tanah sendiri, kontraktor rumah selangor, rumah banglo
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar
syaifulloh bin imam muhtasari kontraktor bina rumah ibs saif muhtar

Back to list